KEPIT JPH( KETUK PINTU JARING PENDERITA HIPERTENSI )
Kesehatan menurut Kemenkes yang tertulis dalam UU No. 23 tahun 1992 merupakan keadaan normal dan sejahtera anggota tubuh, sosial dan jiwa pada seseorang untuk dapat melakukan aktifitas tanpa gangguan yang berarti dimana ada kesinambungan antara kesehatan fisik, mental dan social, seseorang termasuk dalam melakukan interaksi dengan lingkungan (kemenkes, RI 2014).Penyakit tidak menular (PTM), juga dikenal sebagai penyakit kronis, tidak ditularkan dari orang ke orang, mereka memiliki durasi yang panjang dan pada umumnya berkembang secara lambat (Riskesdas, 2013). Salah satunya adalah penyakit Hipertensi.
Hipertensi adalah suatu keadaan dimana seseorang mengalami peningkatan tekanan darah di atas batas normal yang dapat mengakibatkan.peningkatan angka kesakitan (morbiditas) dan juga angka kematian (mortalitas). Tekanan darah fase sistolik 140 mmHg menunjukkan fase darah yang sedang di pompa oleh jantung dan fase diastolik 90 mmHg menunjukkan fase darah yang kembali ke jantung (Triyanto, 2014).
Penyebab dari hipertensi sampai saat ini masih belum dapat diketahui. Kurang lebih 90% penderita hipertensi tergolong hipertensi primer sedangkan 10% nya tergolong hipertensi sekunder. Hipertensi primer terjadi pada usia 30-50 tahun. Pada penderita hipertensi primer tidak ditemukan penyakit renovaskuler, aldosteronism, gagal ginjal, dan penyakit lainnya. Genetik dan ras merupakan bagian yang menjadi penyebab timbulnya hipertensi primer (Triyanto, 2014).
Banyak faktor resiko yang menyebabkan terjdinya hipertensi pada lansia seperti faktor genetik, faktor lingkungan, gaya hidup, obesitas, pola makan dan juga faktor usia. Usia merupakan salah satu faktor resiko hipertensi, dimana resiko terkena hipertensi pada usia 60 tahun keatas lebih besar bila dibandingkan dengan usia kurang dari sama dengan 60 tahun. Hal ini disebabkan karena semakin bertambahnya usia fungsi organ tubuh menurun sehingga terjadi penurunan elastisitas arteri dan kekakuan pembuluh darah.
Menurut data WHO, di seluruh dunia sekitar 972 juta orang atau 26,4% orang di seluruh dunia mengidap hipertensi, angka ini kemungkinan akan meningkat menjadi 29,2% di Tahun 2025. Dari 972 juta pengidap hipertensi, 333 juta berada di negara maju dan 639 sisanya berada di Negara berkembang, termasuk Indonesia (Yonata & Satria, 2016). Prevalensi hipertensi di Indonesia pada tahun 2018 berdasarkan hasil pengukuran pada penduduk usia ≥18 tahun mencapai 34,1% (Riskesdas, 2018).
Prevalensi penyakit hipertensi di Indonesia berdasarkan data dari kemenkes 2017 pada usia >18 tahun prevalensi penyakit hipertensi sebesar 27.3% (kemenkes RI, 2017). Pada tahun 2018 prevalensi penyakit hipertensi sebesar 34.1% (Riskesdas, 2018). Di Indonesia pada tahun 2019 penderita hipertensi menurut data dari kemenkes RI tercatat prevalensi penderita hipertensi naik dari tahun sebelumnya menjadi 38.7% (kemenkes RI, 2019).
Berdasarkan data target sasaran penderita hipertensi di UPTD Puskesmas Rawat inap ketapang tahun 2023 sebanyak 9.983 jiwa. Dan Pada bulan januari dilakukan penjaringan penderita hipertensi didapatkan capaian 7,8 % (779 jiwa), februari 12,5% (1.248 jiwa), maret 20,1% (2.008 jiwa), dan april 28,3%(2.827 jiwa) yang mana masih belum mencapai target.
Salah satu strategi untuk meningkatkan penjaringan penderita hipertensi di UPTD Puskesmas rawat inap ketapang yaitu dilakukan nya inovasi kepit JPH (ketuk pintu jaring penderita hipertensi).

